Sebuah Jalan Keluar
TAK BUAT DIMINUM. Aku baca peringatan tsb dari sebuah kaleng warna hijau daun yg kugenggam. Begitu keras dan dingin. Tutupnya yang kuning menyala seakan menantang setiap serangga untuk dipercepat riwayatnya di muka bumi ini. Sebuah pembunuhan yang terencana. Bagaimanakah rasanya dibunuh dengan hujan dari air-air beracun yang membasahimu? Seandainya saja para ilmuwan itu bisa menemukan ramuan yang membuat serangga mati dengan cepat dan bahagia, tentu kita tidak merasa bersalah membunuhnya.
Masih kugenggam kuat-kuat kaleng ini. Laksana magnet. Aku merasa dialah yang mencengkeramku. Ia menarik jari-jariku agar terus melekat dan mencekal kuat lengkungnya. Ia tiba-tiba menjelma teman baikku. Merasakan segala keterpurukan. Mengalirkan segala sesak dan sengal. Karena aku mengerti : ia menawarkan sebuah akhir. Sebuah jalan keluar. Akhir yang pedih dan tergesa-gesa. Tapi bukankah akhir itu seharusnya indah dan pelan-pelan? Tapi sesuatu yang indah memang tidak bisa bertahan lama.
Simbok, tahukah kau betapa aku ingin membahagiakanmu?
- In Category : Short Story

Last week concert of heavy metal geek Megadeth is the most kickin ass concert i’ve ever seen. Restless high tempo performance was punched out to our ears. About 17 songs, not much, they played violently neat. No opening act. No closing ceremony of we-want-more. No bull shit!
Minggu lalu waktu mudik rasanya kayak traveler sajah. Tiga hari berturut-turut pulang pergi Jogja Solo. Bukan maksud menjiplak filmnya Riri Riza. Tapi memang begitu ceritanya.
Tuhan kenapa kita bisa bahagia?
Silence uplifts the structure






